Oleh : Nasihin Masha
REPUBLIKA.CO.ID, FPI, ormas yang
kontroversial. Sikapnya jelas dan tegas. Jika diganggu melawan. Jika ada yang
dinilai melanggar hukum tapi aparat membiarkan maka mereka yang akan bertindak.
Mereka juga satu-satunya ormas yang paling galak terhadap komunisme.
Habib Rizieq Syihab adalah imam organisasi ini.
Ceramahnya selalu pedas, dengan kata-kata yang hiperbolis, kasar, dan tanpa
tedeng aling-aling. Ia memilih nahi munkar [saja] daripada amar ma'ruf atau
amar ma'ruf nahi munkar.
Ia selalu menyatakan biarkan ulama lain yang
menanam, dia yang mencabuti rumput dan membasmi hamanya. Saat beraksi, FPI
selalu menggunakan uniform yang khas FPI: pakaian putih-putih,
serban hijau, penutup kepala putih, bendera FPI, dan bahkan logo FPI di
pakaiannya.
Di masa SBY, Rizieq dua kali masuk penjara.
Munarman yang menjadi panglima FPI juga pernah masuk penjara. Orang-orang
lapangan FPI adalah masyarakat kelas bawah, bahkan ada yang mantan preman.
Markasnya pun di Petamburan, kawasan Tanah Abang.
Ini termasuk wilayah slum. Karena itu FPI sering
dikonotasikan dengan dunia abu-abu. Seperti perumpamaan dirinya sebagai
pembersih gulma dan pembasmi hama, sebagian orang juga menyebut FPI sebagai
gulma dan hama itu sendiri.
Buya Syafii Maarif, mantan ketua umum PP
Muhammadiyah, menyebutnya sebagai preman berjubah. Bisa jadi ini karena cara
FPI membersihkan gulma dan hama itu sendiri. Atau bisa jadi karena ada ekses
atau bahkan ada sesuatu yang tersembunyi, dunia di balik panggung.
Tentu ada orang-orang yang bisa bercerita karena
pernah menjadi korban FPI. Ada pula yang mengaitkan FPI dengan sejumlah jenderal
polisi dan tentara. Jadi semacam proksi saja dalam konfigurasi kepentingan
percaturan elite nasional.
Namun FPI juga dikenal cepat dan militan saat
membantu korban bencana alam. Tuntutan untuk membubarkan FPI nyaring terdengar.
Namun hingga kini FPI tetap hadir. Ada orang-orang yang merasa terwakili oleh
FPI.
Ini karena segala penyakit masyarakat yang
jelas-jelas terlihat tak juga ditertibkan aparat karena ada kongkalikong.
Tokoh-tokoh dan ormas-ormas mainstream juga mandul. Jika jalan utama mampet,
maka jalan tikus akan muncul, bahkan jalan melawan arus.
Kini, tiba-tiba FPI dan Rizieq seolah menjadi
pusat pergerakan Islam. Pemerintahan saat ini yang tak pandai menjaga
keseimbangan telah melahirkan kekecewaan umat Islam. Partai-partai berbasis
massa dan berideologi Islam sudah lama hanya menjadi pelengkap.
Ormas-ormas Islam //mainstream// terlalu asyik
dengan gerbongnya sendiri dan menjadi buntut dalam pengambilan keputusan
negara, termasuk untuk kasus Ahok. Akibatnya saluran-saluran formal menjadi
mampet dan tak berdaya.
Satu-satunya jalan adalah aksi massa. Dalam
langgam kekuasaan saat ini yang cenderung keras terhadap lawan-lawan politik,
banyak orang yang jerih untuk bersuara. Maka gaya Rizieq dan FPI menjadi
relevan untuk berada di pusat.
Pada sisi lain, yang memiliki massa terlatih
dalam gerakan massa hanyalah FPI. Organisasi ini sudah memiliki prosedur baku
dalam gerakan massa, bahkan memiliki mobil khusus untuk demonstrasi.Ada massa
inti, ada keresahan umum. Klop.
Upaya memecah sudah dilakukan. Hal itu terjadi
pada aksi 411. Upaya untuk menyisir juga sudah dilakukan, yaitu sebelum aksi
212. Tokoh-tokoh dan ormas-ormas mainstream sudah didekati.
'Iklim takut' sudah pula dibuat via produksi wacana makar dan ditunggang aktor
politik.
Tapi massa yang sangat sebagian besar bukan massa
FPI tetap hadir, bahkan lebih besar. Kini, pertarungan itu sudah masuk ke tahap
berikutnya. Seperti singa mengincar mangsa: pisahkan dari kerumunan. Lalu kejar
dan terkam. Itulah yang kini sedang terjadi pada Rizieq.
FPI dan Rizieq terus diupayakan dipisah dari
massa. Bagi orang-orang yang tak suka, FPI adalah hama dan gulma. Hama harus
dibasmi, gulma harus dibersihkan. Caranya? Semprot dengan racun pestisida. Jika
ada dugaan pelanggaran hukum, maka sikat tanpa ampun.
Agar kerumunan yang lain diam, maka harus
dibangun wacana bahwa FPI adalah hama dan gulma. Secara kebetulan, menjelang
pemeriksaan Rizieq di Polda Jawa Barat, Tengku Zulkarnain diundang untuk
berceramah di Sintang, Kalimantan Barat.
Rupanya massa berpakaian etnis tertentu sudah
menunggu. Mereka membentangkan spanduk menolak kedatangannya. Mereka tak
menyebut nama, tapi di situ tertulis jelas menolak FPI. Inilah prosekusi dan
propaganda. FPI adalah hama dan gulma.
Padahal Tengku Zulkarnain bukan FPI. Dai berdarah
Tionghoa ini adalah aktivis Jamaah Tablig. Organisasi ini nonpolitik.Di
provinsi lain, ada pula ormas yang memburu FPI dan pengikutnya. Mereka
melakukan sweeping dan menghajar mobil ataupun orang-orang yang diduga
FPI.
Mereka berseragam dan tertulis jelas nama
organisasinya. Organisasi ini memiliki pembina seorang jenderal polisi. Apa
yang terjadi di dua provinsi ini menunjukkan pola baru. Tak cukup menyemprotkan
racun, tapi juga ibarat melepas predator.
Situasi ini tentu mengerikan. Hama dilawan hama.
Massa diadu massa. Saat ini muncul tuduhan bahwa pencipta predator itu adalah
negara itu sendiri. Tak hanya mencipta tapi juga melepaskannya untuk memangsa.
Tentu ini memerlukan pembuktian tersendiri, dan pasti tak mudah, walaupun
indikasinya sangat kuat.
Pola ini menunjukkan keputusasaan, rendahnya
moralitas bernegara, pendeknya akal, dan tentu saja melanggar hukum. Mestinya
negara bertindak jika ada hama, bukan melepas predator untuk saling tikam.
Namun dalam negara kekuasaan, semua itu kini sedang terjadi.
Padahal Indonesia adalah negara hukum. Lalu
mengapa semua itu berlangsung lancar-lancar saja? Bahkan kaum cerdik pandai dan
parlemen diam. Apakah Indonesia sudah menjadi negara kekuasaan? Kita hanya bisa
menunggu babak selanjutnya.
Indonesia sedang memasuki periode peradaban
terendah dalam sejarah bangsa ini. Tak ada wacana, tak ada moral. Semua hanya
soal kekuasaan dan uang. Semua fokus pada jangka pendek. Mengelola negeri
seperti bermain catur: makan memakan, mati mematikan.
Sumber : http://www.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/17/01/19/ok156j319-mencipta-predator-untuk-fpi
0 komentar:
Posting Komentar